Tampilkan postingan dengan label Psychological. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psychological. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

When An Electra Complexes Meet a 'Lolicon'

Serem banget judulnya yah?

Menyambung rasa penasaran tentang hal-hal berbau psikologi, I ended up with searching about Stockholme Syndrome. Dengan niat sederhana: berusaha mencari inspirasi untuk mengasah kembali kemampuan menulis cerita yang mengalami fase turun mesin (lagi).

Yah, buat yang belum tahu, Stockholme Syndrome sendiri sebenarnya adalah nama suatu keadaan pasca kejadian traumatis yang biasanya dialami oleh korban penculikkan. Dalam kasus ini, si korban -yang biasanya mengalami kekerasakan psikis dan fisik- justru cenderung membela penculiknya. Hal ini dipicu karena perasaan "terima kasih" atau mungkin "hutang budi" karena diperlakukan secara "baik hati" di tengah perlakuan chaotic penculikan. Si korban bahkan mungkin "jatuh cinta" dengan penculiknya. Menarik bukan? Benar-benar hal aneh ketika seorang korban justru jatuh cinta pada orang yang membuatnya terluka.

Saat sedang mencari sumber lagi yang lebih dalam, contoh kasus, dan beberapa cerita lain yang memuat Stockholm syndrome sebagai tagline utama, perjalanan justru berakhir dengan ditemukannya sebuah komik dengan tema kontroversial! Electra complex vs Lolicon.
Dan judul manga itu adalah: Kore wa Koi No Hanashi (This is a Tale of Love) karya Chika


Pertama kali dipublikasikan tahun 2010, Ceritanya sendiri adalah kisah cinta antara seorang gadis berusia 10 tahun dengan seorang novelist berusia 31 tahun.

APA?! GAK SALAH TUH SINOPSISNYA? PENGARANGNYA PASTI SAKIT! YANG BACA JUGA PASTI GAK NORMAL!

Senin, 04 Februari 2013

Prolog

"Bi, simpan pisau itu." 
Kerut khawatir mulai muncul di dahi El. Gestur tangannya mengisyaratkan aku untuk tenang. Tapi aku tidak bisa tenang
Bagaimana mungkin aku bisa tenang?

Aku mempererat pengangan tangan kananku yang sedang memegang pisau dapur ukuran besar sampai buku-buku jariku terasa kebas. Aku tahu benda ini benda berhaya, setidaknya dengan ukuran sebesar ini, jika aku bisa menusuk lurus ke arah perut, aku tahu pisau ini bisa tembus sampai ke organ dalam karena ukuran panjangnya.
Pisau ini berbahaya, dan karena itu El tetap menjaga jarak aman, sekitar 5 meter dariku. Saat ini, dia terlalu jauh dari jangkauan tanganku. Jika memang aku ingin melukai dia separah mungkin dengan pisau, aku tidak  akan mungkin bisa menusuknya dari sini.

"Bi, pisau itu bisa ngelukain kamu. Turunin, Bi. Aku gak ingin kamu kenapa-napa" El mulai menunjukkan wajah sedih dan khawatir. 

El selalu mengkhawatirkan aku. Dia makhluk pertama yang menyayangi aku. Dia makhluk pertama yang menjadi teman baikku. Dan dia satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa tenang.
Tapi dia mengkhianatiku!


Kamis, 31 Januari 2013

Cerita Kursi Taman

“Berapa lama lagi kamu akan termenung seperti itu?” Suara itu mengalihkanku dari renungan sunyi. Aku tidak menyadari ada orang yang duduk di sampingku di kursi taman. Yang aku ingat, ayahku menyuruhku untuk berjalan-jalan ke luar rumah. Aku ingat ayahku tersenyum menyemangati saat memberi saran itu. Tapi, mata sembab itu adalah mata yang menunjukan kelelahan.

Lelah karena melihat aku hanya terus berdiam diri di rumah, diam sambil meratap dan mencaci dunia. Aku berjalan-jalan ke luar rumah bukan karena ingin, aku berjalan-jalan ke luar rumah karena cuma itu yang bisa aku lakukan untuk mengurangi beban keluargaku. Dan, sepertinya hal itu yang mengantarkan langkah kaki ku menuju ke tempat ini. 

“Hei?” Laki-laki yang duduk di sampingku kembali menyapaku, kali ini sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahku, dia berusaha menarik perhatianku. 
"Kurasa kau berhasil meratapi kesia-sian, karena sekarang kau menjadi bagian dari mereka"

Kalimat itu! Kalimat pria itu!

Dia berhasil menyerabutku dari lembah kesunyian, aku menatap benci padanya. Dia cuma pria kurus dengan jaket kupluk tebal. Apa hak dia mengomentari isi pikiranku. Dia cuma orang asing, dia sama sekali tidak tahu apa permasalahannya. Pria itu hanya memperhatikanku sesaat, kemudian dia mengeluarkan sebuah permen lolipop dari dalam tas selempangnya dan memberikannya kepada ku.

“Aku punya permen, jadi berhentilah menangis” serunya sambil beranjak pergi dari kursi taman 
**** 

Pagi ini aku datang lagi ke taman ini. Berharap bisa bertemu lagi dengan pria aneh kemarin dan menanyakan kenapa dia memberiku permen lolipop. Dan dia memang sedang duduk di sana, masih menggunakan jaket berkupluknya padahal matahari menyengat tajam. Aku duduk di sampingnya, tapi tidak terlalu dekat, aku mengambil posisi sejauh mungkin darinya walaupun kita duduk di kursi yang sama. Dia terlihat sedang menggambar sesuatu di scetch book